Gandeng Week of Compassion, YAO Bangun Ekosistem Pertanian Mandiri untuk Suplai Dapur Gizi Gratis
- 18 Feb
- 2 menit membaca

KUPANG – Yayasan Alfa Omega (YAO) terus berinovasi dalam menciptakan kemandirian ekonomi dan ketahanan pangan di Timor Barat. Melalui proyek "Dukungan Pertanian Berkelanjutan" yang didukung oleh Week of Compassion (Global Ministries), YAO kini tengah mengembangkan model pertanian terintegrasi yang menghubungkan petani lokal langsung dengan pasar yang pasti.
Sejak dimulai pada pertengahan 2025, program ini tidak hanya fokus pada budidaya lahan, tetapi membangun sebuah ekosistem closed-loop (lingkaran tertutup) yang saling menguntungkan.
Menjawab Tantangan dengan Solusi Terpadu Direktur YAO menjelaskan bahwa inisiatif ini lahir dari dua kebutuhan mendesak: kemandirian operasional yayasan dan kebutuhan pasokan pangan segar untuk Dapur Makanan Bergizi Gratis yang melayani 3.186 anak sekolah setiap harinya.
"Kami tidak ingin petani hanya menanam lalu bingung menjual. Dalam model ini, YAO bertindak sebagai pembeli tetap (off-taker). Hasil panen dari lahan binaan langsung diserap oleh Dapur Gizi kami," jelas pihak YAO.
Tiga Pilar Utama Program Dalam pelaksanaannya, proyek ini fokus pada tiga komponen strategis:
Pusat Produksi & Pelatihan (Center of Excellence): Pemanfaatan lahan seluas 3 hektar milik YAO—terdiri dari 1 hektar untuk padi dan perikanan air tawar, serta 2 hektar untuk hortikultura (pisang, pepaya, buah naga, dan sayuran).
Pemberdayaan Petani Jemaat: Pelatihan intensif bagi 45 anggota jemaat GMIT Fatuknutu untuk mengoptimalkan 20 hektar lahan mereka dengan teknik pertanian modern.
Jaminan Pasar: Kepastian pembelian hasil panen oleh YAO untuk memutus rantai tengkulak dan menstabilkan pendapatan petani.
Dampak Nyata bagi Komunitas Selain dampak ekonomi bagi 90 keluarga petani, keuntungan dari usaha pertanian ini juga dialokasikan untuk misi sosial. Sebanyak 40% dari profit digunakan untuk memberikan bantuan langsung berupa bibit, seragam sekolah, dan nutrisi tambahan bagi 45 keluarga paling rentan.
"Ini adalah cetak biru kemandirian. Kami bergerak dari ketergantungan pada donor menuju model wirausaha sosial yang berkelanjutan," tutup manajemen YAO.



